-->

Peran Penting Ulama Dalam Pendidikan Rakyat Aceh

Ulama aceh,ulama indonesia,MUI

Darulihtidaulislam.com- Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa Aceh sebelum diperangi oleh Belanda pada tahun 1873 adalah daerah kerajaan. Ada beberapa kerajaan yang terdapat didaerah Aceh pada masa lalu yaitu kerajaan Islam Pereulak di bagian Aceh Timur, kerajaan Jeumpa di bagian Aceh Utara, Kerajaan Pidie di bagian Aceh Pidie dan kerajaan Daya di bagian Aceh Barat.

Di antara kerajaan-kerajaan itu yang terkenal sampai sekarang adalah kerajaan Pase dan kerajaan Aceh Darussalam Kerajaan Pase dan kerajaan Aceh Darussalam,seperti juga kerajaan lain di Aceh di waktu itu adalah kerajaan Islam maka dapat dipahami bahwa pendidikan yang berlaku pada kerajaan tersebut adalah pendidikan bendasarkan agama Islam.

Hal yang semacam ini bukan saja berlaku pada kerajaan Pase dan Kerajaan Aceh Darussalam tetapi juga pada seluruh negeri Islam. Anak-anak dididik oleh orang tuanya, baik langsung oleh ibu bapaknya sendiri atau diserahkan belajar di rumah seorang guru atau di tempat belajar seperti di masjid atau meunasah.

Pada masa itu belum ada sistem pendidikan sekolah seperti sekolah sekarang ini.Satu-satunya tempat belajar untuk umum adalah dayah,sedangkan meunasah berfungsi sebagai tempat belajar anak-anak di kampung dan orang-orang tua dalam bidang agama.

Peninggalan dunia pendidikan masa itu kita mengenal nama beberapa ulama besar dengan dayahnya meninggalkan nama harum untuk agama dan masyarakat serta karangan-karangannya dalam bidang ilmu agama,akhlak, sejarah dan lainnya.


Pendidikan dayah pada masa itu mulai di tingkat rendah, tingkat menengah sampai tingkat tinggi.Kalau pelajaran di rumah atau di meunasah pada umumnya adalah tingkat rendah.Tetapi bila teungku atau ulamanya diundang untuk mengajar di rumah ada jug yang tingkat tinggi bahkan ada pada tingkat khusus dalam suatu cabang pengetahuan,Misalnya untuk mengajar putra-putra uleebalang dan orang terkemuka.

Pendidikan di dayah kalau di tingkat rendah biasanya diajarkan oleh seorang santri yang sudah tinggi ilmunya.Begitu pula di bagian menengah diajarkan oleh seorang santri
yang sudah lebih tinggi imunya. Santri-santri pengajar tadi dinamakan teungku rangkang, sedangkan untuk teungku-teungku rangkang tadi diajarkan oleh teungku Chik (Teungku
Besar) yang dinamakan teungku di bale.

Seperti sudah di jelaskan bahwa dayah merupakan lembaga pendidikan pertama dan tertua bagi umat Islam di Aceh. Dalam melaui sejarah yang begitu panjang dayah telah
selalu berusaha menyesuaikan diri dengan situasi masyarakatnya sehingga mereka masih dapat eksis sampai sekarang, Berbagai gelombang perubahan alam, sosial politik
dan teknologi yang dihadapi oleh dayah, tetapi selalu saja eksistensi dayah dapat di pertahankan.

Di masa-masa kesultanan di Aceh, lembaga pendidikan dayah mengalami kemajuan yang pesat. Ini dibuktikan dengan jumlah dayah di Aceh terus berkembang,demikian juga dengan jumlah ulama yang mengajar, selain ulama tempatan yang semakin lama semakin tumbuh sulthan jugs mengundang ulama-ulama dari luar negeri. Ulama-ulama yang diundang tidak hanya untuk mengajar tetapi juga untuk kebutuhan  kerajaan sendiri sebagai kunsultan bidang hukum agama.Sebagian ulama daerah turut memperdalam ilmunya di luar negeri terutama sekali ke Mekkah dan Madinah.

Bukti lain adalah terdapat sejumlah kitab-kitab ilmiah yang bereputasi internasional di tulis oleh sejumlah ulama Aceh. Beberapa kitab peninggalan mereka sejak dulu telah menjadi bahan kajian para ilmuwan kampus di universitas-universita internasional.

Pemikiran 4 ulama Aceh Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri dan Abdurauf al-Singkil) selah memberi warna pemikiran Islam di Asia Tenggara sejak abad 16 -17 bahkan juga sampai sekarang Kitab tafsir lengkap 30 juz dalam bahasa Melayu (sekarang telah menjadi bahasa Indonesia) yang pertama adalah ditulis oleh ulama Aceh, yaitu Syeikh
Abdurrauf As-Singkili.

Pada masa perang Belanda di Aceh,dayah mulai menurun karena sejumlah ulama bahkan santri-santrinya telah harus menjadi pemimpin perang dan kemudian gugur di medan peperangan
Belanda juga membumihanguskan sejumlah bangunan dayah bersama perpustakaannya di kala itu Aceh banyak kehilangan ulama-ulama besar.

Sejalan dengan pembumihangusan dayah juga telah hilangnya sejumlah kitab-kitab besar dalam berbagai disiplin ilmu baik yang ditulis oleh ulama Aceh sendiri maupun yang ditulis oleh ulama-ulama dari Timur Tengah.

Selain kehilangan ulama dan sejumlah kitab, Belanda,juga mengontrol lembaga pendidikan apa saja yang berada di bawah kekuasaannya. Mereka melarang mengajarkan beberapa mata pelajaran yang berhubungan dengan politik dan yang dianggap dapat memajukan kebudayaan umat.Karena itu banyak pelajaran yang tidak diajarkan lagi di dayah ketika itu.

Jika kita bandingkan di masa lalu semua pejabat negara adalah tamatan dayah mulai dari pajabat rendahan sampai raja, demikian juga dalam dunia militer, mulai dari tamtama sampai panglima adalah tamatan dayah, itu berarti lembaga pendidikan dayah di masa lalu menyediakan berbagai mata pelajaran di dayah.Banyak ulama-ulama pada masa lalu ahli dalam ilmu pertanian, ilmu falak bahkan ilmu persenjataan.

Tetapi dengan kedatangan Belanda, semua itu telah dilarang dan kemudian tinggallah ilmu-ilmu yang berhubungan denggan ibadah murni (utama) saja yaitu ilmu Fiqh, Tauhid dan tasawuf. Sedangkan bahasa Arab dan ilmu mantik dipelajari hanya sebagai alat untuk mempertajam memahami ilmu fqih.

Bahasa Arab tidak dipelajari untuk menulis kitab seperti yang dilakukan oleh ulama -ulama terdahulu dan juga tidak dipraktekkan untuk kepentingan komunikasi dengan dunia luar baik komunikasi bisnis maupun ilmu pengetahuan. Namun bagaimanapun sampai tahun 1900-an lembaga pendidikan yang tersedia di Aceh adalah hanya lembaga pendidikan agama Islam yaitu dayah.Baru pada sekitar tahun 1903 diperkenalkan lembaga pendidikan sistem sekuler oleh Belanda.

Dengan diperkenalkan sekolah oleh Belanda dengan kurikulum yang berbeda dengan dayah dan praktis dapat dipergunakan dalam dunia kerja dalam kehidupan modern, masyarakat telah mulai melirik ke lembaga ilmu pendidikan ini. Di kalangan organisasi Islam Muhammadiyah lebih awal membaca fenomena ini karena itu Muhammadiyah menyambut baik dan terus meyesuaikan lembaga pendidikan yang dimiliki sesuai tuntutan zaman.

Melihat fenomena ini di sekitar tahun 1928 ulama dayah berusaha mendirikan lembaga pendidikan model lain yaitu yang disebut madrasah yang mengkombinasikan mata pelajaran umum dan agama,Ulama-ulama di Aceh tidak ingin sisi apapun dijauhkan dari aspek agama.

Karena itu mereka hanya mengambil model pendidikan sekolah tetapi kurikulum dan orientasinya diubah.Pendidikan ini tetap
bertujuan dalam rangka memperdalam ilmu sesuai dengan tuntutan agama, kendatipun ada tujuan antara yaitu agar memiliki keterampilan untuk kebutuhan hidupnya.

Sekian....

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Peran Penting Ulama Dalam Pendidikan Rakyat Aceh"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel