-->

Aceh Pada Masa Sultan Alauddin Mansur Syah

Sejarah Aceh
    (sumber: aceh dan serambi makkah)

Darulihtidaulislam.com- Raja Alauddin putera Sultan Mansur Syah Perak telah menjadi bangsawan Aceh,dia telah kawin dengan puteri Indra Ratna Wangsa janda Sultan Seri Alam, dan puteri dari Sultan Al-Qahar, dan adiknya perempuan telah kawin pula dengan salah seorang keluarga Sultan.

Dalam pandangan masyarakat darah telah bercampur apalagi karena negeri Perak telah dianggap sebagai sebahagian dari Aceh.Pemerintah di Perak pun telah disesuaikan menurut susunan di Aceh, memakai Mukim dan Penggawa.Karena itu dalam perasaannya Aceh dan Perak sudah menjadi negeri yang satu.

Hel tersebut semakin bertambah karena masyarakatnya waktu itu demikian mendalam rasa keislaman, sehinggga dirasakan olehnya bahwa diantara Perak dengan Aceh terdapat tali yang satu dalam lingkungan Daral Islam (negeri islam).

Malaka karena masih dikuasai oleh Portugis maka dianggap Darul Harbi (negeri masih perang) Oleh sebab itu maka ketika terjadi perebutan kekuasan yang telah menumpahkan darah dua orang raja besar itu, Raja Alauddin telah berikap sangat hati-hati dan sekali-kali tidak memihak.Dia adalah orang dalam orang istana.

Bagi Raja Alauddin yang lebih dipentingkan adalah menjaga martabat kerajaan karena sikap yang seperti itulah dia disenangi oleh segala pihak. Apalagi sikapnya yang salah dalam beragama sehingga akhirnya kepada dirinyalah jatuh pilihan rakyat untuk menjadi Sultan Aceh.

Banyak orang yang berkomentar bahwa ini merupakan suatu nasib sangat baik dari seseorang bekas tawanan.Gelar Sultan
Alauddin Mansur Syah ini diberikan setelah dia naik tahta,
sebagai gabungan dari pada gelar Sultan Aceh yang mangkat (Al-Qahar) dengan gelar ayahnya sendiri Sultan Ahmad Mansur Syah di Perak.

Selama sembilan tahun dia menjadi penguasa dikerajaan Aceh dengan penuh bijaksana, sehingga orang Aceh tidak merasa lagi bahwa dia orang lain dan diapun tidak merasa pula lagi bahwa dia adalah bekas buangan.Dia berusaha keras memajukan kerajaan Aceh,mengatur pertahanan kerajaan dari berbagai gangguan dan serangan.

Dalam kesempatan tersebut raja sempat mengirim kembali perutusan ke Istambul untuk menghadap Sultan Turki mengabarkan perubahan dan kemajuan Islam dalam kerajaan
Aceh.

Utusan ini mendapat sambutan hangat dari Sultan Murad III (memerintah 1573-1596), dan Ibnus Sultan Salim Il mempererat hubungan dengan Aceh, dan mengakui kedudukan Aceh sebagai Serambi Mekkah, pembela mazhab ASWAJA dan Aceh pun mengakui perlindungan rohaniah Khalifatul Muslimin, perlindungan Mekkah dan Madinah atas negerinya.Lantaran itu maka hubungan dengan Mekkah dan Turki bertambah rapat.

Sekian.....

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Aceh Pada Masa Sultan Alauddin Mansur Syah"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel